
Kemudian, sebagai balas budi pada Abu Thalib, Nabi memilih Ali untuk di didik dan di tanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Ali pun terbuka dan akhirnya masuk Islam. Setelah itu, barulah Zaid bin Haritsah, seorang budak yang telah dimerdekaan oleh Siti Khadijah menyusul masuk Islam. Rasulullah juga bercerita kepada teman akrabnya, Abu Bakar Assidiq, maka ia pun beriman dan membenarkannya tanpa ada keraguan, kemudian Abu Bakar Assidiq mengajak teman seperdagangannya mereka menyambut dengan baik, diantara mereka yang masuk islam adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Al-Arqam bin Abil Arqam.
Fase kedua secara terang- terangan ( jahriyah) setelah Allah menurunkan firmannya:

Artinya: ” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (Q.S As-Syu’ara : 214).
Nabi menyeru Bani Abdul Muthalib sesudah mereka berkumpul berkatalah Nabi :
” Menurut yang saya ketahui belum pernah seorang pemuda membawa sesuatu dari kaumnya yang lebih utama dari apa yang saya bawa untuk kamu. Saya bawa untuk kamu segala kebaikan dunia dan akhirat.”
Perkataan Nabi Muhammad Saw ini disambut dan dibenarkan oleh sebagian oleh mereka yang hadir, tetapi ada juga sebagian yang mendustakannya, Abu Lahab pamannya sangat mendustakan demikian juga istrinya.
Abu Lahab berkata:
” Celakalah engkau! Apa untuk inikah kami engkau panggil?”
Sehubung dengan tindakan yang yang dilakukan oleh Abu Lahab ini. Maka Allah menurunkan firman-Nya :

Artinya : ” Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!, Tidaklah berguna baginya hartany dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk kedalam api yang bergejolak (neraka). Dan ( begitu pula) istrinya, pembawa katu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” ( Q.S Al- Lahab : 1-5).
Lalu bagaimanakah kelanjutannya?
Kita bahas di part 6 ya guys
Sekian semoga bermanfaat ^-^
Ig: @dendyherdi


